Kamis, 30 Juli 2015

Bodoh!

Wahai dirimu yang aku cintai untuk yang pertama kalinya. Apa kabar kamu sekarang? Apa kabar Mamah dan Papahmu yang menjadi penopang hidupmu? Apa kabar saudara lelakimu yang menyebalkan itu? Apa kabar keindahan hatimu yang aku mengerti?
Entah apa yang aku lakukan untuk saat ini dimana pesonamu tak henti-hentinya merekam segala gerak asaku. Karena datangnya dirimu aku merasa bahagia saat itu, disaat masa lalu yang telah terlewati oleh debu-debu kenangan. Kau selalu hunuskan senyum indah yang tak dapat aku tepis.


Wahai dirimu yang aku cintai untuk yang pertama kalinya. Keramahan sikapmu buat aku tercandu akan damainya saat ada dirimu. Kejahatanmu yang selalu menikam tubuhku dengan cara mencubitnya menjadi peranan penting, bahwa kau nyata sebagai sosok yang pernah aku miliki pada singkatnya kisah asmara kita saat itu. Aku akan segera mensyukurinya. Entah aku yang hanya melihat senyum mu, ria mu, tawa mu, sedih mu, murung mu hingga bayang mu. Aku sangatlah merasa sulit ketika semua itu menempa diriku. Apakah kau tau persoalan ini? Aku tak berharap. Karena aku mengenal kemirisan diriku ketika tak pernah kau anggap. Tak pernah kau peduli tentang seraya-rayanya rindu ini hanya untukmu.

Wahai dirimu yang aku cintai untuk yang pertama kalinya. Begitu cepatnya kau meninggalkanku, begitu mudahnya kau menyapu bayangku. Begitu ringannya kau remukan perasaanku yang begitu renta. Entah, aku sadar bahwa aku telah menjadi pahit untuk dirimu. Tetapi andai kau tau, dikerumunan orang-orang hebat, orang-orang kuat yang menghampiri dirimu itu, aku hanya mampu untuk bersenyum tak berdaya. Karena bagiku, senyummu amat berharga dibanding kau harus tau bagaimana tentang diriku ini. Hanya itu. Terima kasih.

Wahai dirimu yang aku cintai untuk yang pertama kalinya. Aku merindukan kebodohanmu. Bodoh!









Tidak ada komentar:

Posting Komentar