Entah apa yang aku lakukan untuk saat ini dimana pesonamu tak henti-hentinya merekam segala gerak asaku. Karena datangnya dirimu aku merasa bahagia saat itu, disaat masa lalu yang telah terlewati oleh debu-debu kenangan. Kau selalu hunuskan senyum indah yang tak dapat aku tepis.
Wahai dirimu yang aku cintai untuk yang pertama kalinya. Keramahan sikapmu buat aku tercandu akan damainya saat ada dirimu. Kejahatanmu yang selalu menikam tubuhku dengan cara mencubitnya menjadi peranan penting, bahwa kau nyata sebagai sosok yang pernah aku miliki pada singkatnya kisah asmara kita saat itu. Aku akan segera mensyukurinya. Entah aku yang hanya melihat senyum mu, ria mu, tawa mu, sedih mu, murung mu hingga bayang mu. Aku sangatlah merasa sulit ketika semua itu menempa diriku. Apakah kau tau persoalan ini? Aku tak berharap. Karena aku mengenal kemirisan diriku ketika tak pernah kau anggap. Tak pernah kau peduli tentang seraya-rayanya rindu ini hanya untukmu.
Wahai dirimu yang aku cintai untuk yang pertama kalinya. Aku merindukan kebodohanmu. Bodoh!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar