Jumat, 31 Juli 2015

Pecandu Pilu



Rasa yang tertatih oleh rintih.
Rasa pedih yang terus menari sepi.
Bagaikan khayal yang terus menguraikan mimpi-mimpi.
akupun terbujur lemah dan tak bernyali.

Menjatuhkan do'a di penghujung pahatan padat permohonan.
kini para pendosa memadati jiwa aksara dengan rindu yang sepadaan.
memantaskan diri mereka dilara yang dijahit sendiri dengan benang luka yang mereka ulur.
dan kegamangan hati dari kalutnya sepanjang umur.

Sahih, pekik mereka mulai muncul.
Lengkaplah sudah do'a tanpa kabul.
aksara tanpa jiwa dari sang perindu.
dan tak lain melahirkan pecandu pilu.

para hamba sahaya bagi jarak yang sengaja mereka panjang-panjangkan.
demi menanak kecemasan mereka ditungku-tungku lubuk perasaan.

Kamis, 30 Juli 2015

Bodoh!

Wahai dirimu yang aku cintai untuk yang pertama kalinya. Apa kabar kamu sekarang? Apa kabar Mamah dan Papahmu yang menjadi penopang hidupmu? Apa kabar saudara lelakimu yang menyebalkan itu? Apa kabar keindahan hatimu yang aku mengerti?
Entah apa yang aku lakukan untuk saat ini dimana pesonamu tak henti-hentinya merekam segala gerak asaku. Karena datangnya dirimu aku merasa bahagia saat itu, disaat masa lalu yang telah terlewati oleh debu-debu kenangan. Kau selalu hunuskan senyum indah yang tak dapat aku tepis.


Wahai dirimu yang aku cintai untuk yang pertama kalinya. Keramahan sikapmu buat aku tercandu akan damainya saat ada dirimu. Kejahatanmu yang selalu menikam tubuhku dengan cara mencubitnya menjadi peranan penting, bahwa kau nyata sebagai sosok yang pernah aku miliki pada singkatnya kisah asmara kita saat itu. Aku akan segera mensyukurinya. Entah aku yang hanya melihat senyum mu, ria mu, tawa mu, sedih mu, murung mu hingga bayang mu. Aku sangatlah merasa sulit ketika semua itu menempa diriku. Apakah kau tau persoalan ini? Aku tak berharap. Karena aku mengenal kemirisan diriku ketika tak pernah kau anggap. Tak pernah kau peduli tentang seraya-rayanya rindu ini hanya untukmu.

Wahai dirimu yang aku cintai untuk yang pertama kalinya. Begitu cepatnya kau meninggalkanku, begitu mudahnya kau menyapu bayangku. Begitu ringannya kau remukan perasaanku yang begitu renta. Entah, aku sadar bahwa aku telah menjadi pahit untuk dirimu. Tetapi andai kau tau, dikerumunan orang-orang hebat, orang-orang kuat yang menghampiri dirimu itu, aku hanya mampu untuk bersenyum tak berdaya. Karena bagiku, senyummu amat berharga dibanding kau harus tau bagaimana tentang diriku ini. Hanya itu. Terima kasih.

Wahai dirimu yang aku cintai untuk yang pertama kalinya. Aku merindukan kebodohanmu. Bodoh!









Rabu, 29 Juli 2015

Cinta



Cinta...
Sebuah kata sederhana yang selalu identik dengan kebahagiaan, senyum dan tawa. Namun, dibalik kebahagiaan itu juga tersimpan segumpal air mata yang suatu saat akan mengalir ketika rasa bahagia itu harus mengikis hati yang ditempatinya dan menjadi momok yang begitu menakutkannya ketika yang disakiti olehnya tak mampu menjinakannya.

Cinta...
Bukanlah sebuah benda yang harus dipaksakan ada ataupun dihapuskan begitu saja dalam setiap pemilik hatinya. Bagaimanapun sebuah hati tetap akan memberi ruang pada cinta yang lalu ataupun yang baru.

Cinta...
Tidak dapat dipaksakan untuk memiliki namun membiarkannya tumbuh dengan pengendalian diri adalah yang lebih baik adanya.

Cinta...
Perih jika dipaksa dan berada pada hati yang salah. Sakit jika tak ikhlas menerima kenyataan dengan rasa percaya akan karuniaNya.

Malam yang tak berangsur tidur



Disuatu malam, dikeseringan malam, aku masih menyerupai sebuah kondisi yang sama seperti dengan kemarin. Menepi diteduhnya alas teras rumahku. Memujuk, duduk dan berharap akan petunjuk. Entah apa yang menghantui si kepala ini, yang jelas dikeseringan malam ini, sulit rasanya untuk memanjakan kedua kelopak mata ini untuk menciptakan bunga tidur.
Dan hal ini aku rasakan secara sadar. Masih terus berangsur meminta tanya didalamnya. Disaat ini pun aku mencoba kebiasaan baru, hal yang baru, situasi yang baru.

Malam yang tak berangsur tidur, disaat itupun terbesit akal dimana aku menjadi penulis. Tampak konyol sebenarnya. Bagiku menjadi penulis itu seksi. Sadarnya aku akan mencoba untuk menciptakan aksara demi aksara yang menyebabkan terjadinya sebuah kata, sebuah kata yang menimbulkan kalimat, tentu saja kalimat yang mudah dan terbaca. Dibaca pun agar dimengerti. Dimengerti akan maksud yang tertumpah disini. Iya puisi.

Malam yang tak berangsur tidur, aku melanjutkan besitan ide tersebut dengan memulainya dari sebuah pertanyaan dari se-eka tanya hingga saharsa tanya. Apakah aku bisa memulai hal baru ini untuk menjadi seorang penulis? Kekonyolan itu terulang kembali. Sadarnya aku tidak ahli mengenai ide ini, tetapi aku ingin mempunyai hal yang aku yakini bahwa "bakat itu bukan terlahir, tetapi bakat itu dilahirkan". Dan ide ini tak hanya menjadi keinginan yang sesaat. Tetapi berkeinginan yang tak henti menyandu hasrat diri.

Malam yang tak berangsur tidur, menemukan ide-ide brilian untuk mencari bahan itu tak begitu mudah, melainkan sulit. Harus disadari, yang selalu terfikir itu adalah yang dipaksakan untuk ada nyatanya. Paksaan si kepala ini haruslah berjalan. Karena adanya sebuah paksaan yang mengandung rasa keingin tahuan, dan tidak memungkiri akan terjadinya sebuah reaksi si kening yang berkerut karena guna dayanya untuk berfikir. Dan pendalaman jiwa yang semoga utuh terjaga kesehatannya.

Malam yang tak berangsur tidur, semoga dan semoga selalu aku semogakan untuk mengabuli permintaan si kepala ini. Itu semua terjadi karena adanya Malam yang tak berangsur tidur.