Kamis, 15 Oktober 2015

yang kusebut itu Do'a

Angin selalu memahami kemana arah hembusannya harus berlari
Seperti ia yang selalu mencoba untuk meriakkan tenangnya air dalam sepi

Dan mencoba untuk menyusup dalam lubang pori-pori kulit
Menyebabkan reaksi yang membuat hal tersebut tak terasa sakit

Untuk apa ada kata kita saat berjalan seiring
Untuk apa kau sebut kata kita jika kita tak mampu bersanding

Ku tak ingin bersamamu hanya karena takut sendiri
atau bersamamu hanya karena ketakutan akan sepi

Lalu kau berpura-pura untuk lupa bahwa rasaku telah hilang terbawa angin senja
Dan kau merelakan mentari terbenam tanpa ada alasan yang kusebut itu Do'a

Rabu, 14 Oktober 2015

Kepada Kekasihku Kelak

Semoga kau tidak mendengar kata pemuda-pemudi tanggung yang merasa memahami dunia setelah menaklukkan puluhan perasaan, padahal dunia jauh lebih besar dari sekedar urusan percintaan dua pasang Manusia apalagi isi celana.

Aku membayangkan kau akan gemar membaca atau paling tidak berpikiran terbuka, mendengar, dan tak ragu belajar.
Setiap dari kita akan sesekali berada disebuah waktu yang jatuh dalam kesalahan; semoga kita memiliki nyali untuk meminta maaf dan tak mengulangi, tak bersembunyi dibalik punggung mereka yang bisa jadi tak tahu apa permasalahannya.

Semoga kau juga gemar menertawai kecerobohan dan kebodohan yang kau perbuat sendiri, tak memaki-maki apa yang tidak kau ketahui, dan mencoba mengerti yang tak kau pahami. Dunia ini sungguh teramat luas untuk pikiran-pikiran sempit.

Aku berdo'a agar kau tetap memelihara kanak-kanak dalam dirimu. Kita akan berlarian ditrotoar jalan utama, menari kegirangan dibawah lebatnya hujan, menyanyi dan tertawa setelah pertunjukan; tak peduli pada sekitar kita yang ganti menunjuk-nunjuk kita.

Semoga kau datang padaku ketika kau sedang menjalani kesibukan yang menjadi kecintaanmu sehingga kita bisa saling berbagi cerita tentang cinta; cintaku pada kertas-kertas dan pena, cintamu pada apapun yang sedang kau lakukan sepenuh jiwa. Aku membayangkan matamu akan berbinar, semangatmu akan menular, setiap kali kau ceritakan hari-hari yang telah kau jalani.

Bila kau lelah karena kesibukanmu, semoga kau punya kesenangan yang mengalihkan penat atau menyembuhkannya, yang bisa kau kenalkan bila kebetulan ia asing bagiku, atau yang bisa kita lakukan bersama-sama karena ia sama-sama hobi kita. Kau akan punya waktumu sebagai Manusia, aku akan punya waktuku sebagai Manusia. Kita akan baik-baik saja walau tak setiap waktu untuk berdua.

Semoga kau melihat setiap kali aku sedang berusaha dan berpindah untuk membawa semangat yang aku miliki. Semoga kita bisa berbagi beban, menyeret benda-benda bawaan kita seolah sedang pergi liburan.

Semoga kita bisa berbagi musim hujan diantara belahan terindah Negeri ini, meracik tawa yang tanpa sengaja selalu menjadi ciptaan kita yang tak ada habisnya, meramu ide-ide brilian untuk kita tumpahkan pada secarik kertas atau menyusun rapih rencana demi rencana yang entah akan menjadi seperti apa?

Kepada kekasihku kelak, aku tidak membayangkan dirimu ada disudut mana, tetapi aku mengira mungkin saja kita belum berjumpa. Entah siapa dirimu, tetapi aku meyakini diriku bahwa suatu hari nanti Tuhan akan menemukan aku dengan mu, dan sebagai keharusan bahwa kita akan bersatu. Amin.

Minggu, 11 Oktober 2015

untuk Oktober



Untuk yang tidak seharusnya dipertanyakan dan yang tidak mampu disampaikan.

Sebuah rahasia tidak akan bisa disampaikan melalui apapun. Ia adalah bahasa yang tidak bisa dimengerti, denyut yang tidak sanggup dikenali oleh apapun yang tidak sanggup dikenali oleh panca indra. Larik-larik puisi, lembar-lembar yang tabah ditulis, hanya kadang menyembunyikan diantara diksi. Sepeti halnya nada-nada yang digaungkan alat musik, atau bisa juga kata-kata yang keluar dari mulut seseorang. Tapi ia tidak memberitahukan apapun, ia samar dimataku, ia gamang yang ditangkap telingaku, ia seperti enggan untuk aku rasakan.

Pada apa saja yang seharusnya dipertanyakan, tidak pernah ada sebuah jawaban. Ditinggalkan pemiliknya yang sepertinya sudah tidak mau tahu lagi, mungkin ia lupa, mungkin ia sengaja melupakan.

Pada apa saja yang seharusnya disampaikan, kadang rahasia dibiarkannya tetap terkunci, sengaja disembunyikan, atau memang terlanjur hancur hingga tak mampu untuk sekedar menyiratkan rasa syukur sekalipun.

Apa yang tidak mampu disampaikan, kadang memang semestinya dibiarkan. Hilang terlupakan, tidak seharusnya dipertanyakan.

Selalu menjadi sebuah penantian dimana sesuatu hal akan terjadi, sesuatu hal akan tiba, dan terdiam sepi ketika hal itu sedang terjadi. Ini kisahku pada Oktober, ini lahirnya aku pada Oktober, ini pesan aku untuk Oktober, wahai Oktober. Tetaplah mengesankan.

Minggu, 04 Oktober 2015

Bandung



Bandung, adalah salah satu kota yang berdiri tegak diantara belantara kota-kota dari sudut Negeri ini.

Bandung, bagiku adalah sebuah mahkota keemasan daerah yang tak mampu disaingi dan ditandingi keindahannya.

Bandung, menurutku adalah seperti sebuah kota pilihan untuk hamba-hamba Allah untuk terlahirkan melalui tanah ini.

Bandung, adalah sebuah kota yang menyimpan beribu macam kenangan untuk aku pribadi.

Bandung, adalah tempat dimana aku memaksakan perasaan ini untuk merindukan selalu akan kesejukan hari demi harinya.

Bandung, merupakan tanah kelahiranku yang belum sempat aku tau sepenuhnya tentang tempat yang belum aku singgahi.

Bandung, adalah sesuatu yang suatu saat aku akan mengetahuinya dari sudut-sudut kecil yang belum aku jamahi.

Bandung, seakan selalu membuat aku kagum dibuat olehnya melalui mahkluk hidup didalamnya.

Bandung, adalah kota yang berhasil membuatku terpikat berulang kali dengan jutaan pesonanya.

Bandung, bila kudengar nama itu dari mulut manusia lain, seperti membuat decak kebahagiaan tersendiri.

Bandung, terimakasih untuk kesediaanmu, aku bangga pernah terlahir darimu dan pernah banyak pelajaran darimu.