Sore ini, pukul 16:29 menit, aku yang telah kembali pada ruang penenangku yaitu kamarku sendiri saat setelah aku selesaikan suatu kewajiban dalam sebagian hidupku, yaitu pekerjaan.
Aku mencoba membentangkan tubuhku dengan beralaskan ranjangku yang cukup sempit dikarenakan aku memiliki ukuran tubuh yang cukup tinggi, yang mengakibatkan saat ketika aku sedang menjatuhkan seluruh badanku keranjang tersebut, masih ada yang tersisa yaitu kedua kakiku bilamana tidak aku tekuk dan posisi tubuhku tidak miring.
Saat ini, posisi tubuhku bisa dibilang sedang dalam posisi telungkup, dengan adanya sebuah bantal yang aku sanggahkan diantara leher dan kepalaku, dengan posisi indra mataku yang aku biarkan kosong, dan aku buka lebar-lebar indra pendengaranku, seketika aku merasakan sebuah relaksasi yang telah terjadi saat ini, lalu segera aku simpan dalam memori otakku.
Aku mendengar diluar kamarku ada beberapa suara-suara seekor burung yang bersautan dengan burung-burung lainnya diluar sana, seakan memberitahu bahwa diluar sana mereka tampak gembira menyambut sore ini. Dan tidak mau kalah pula burung yang aku miliki ini menunjukan kehebatan kicauannya. Sebelumnya, aku memiliki seekor burung kutilang, tapi burung tersebut bukan sepenuhnya milikku, tetapi milik Ayah Angkatku. Walaupun sesungguhnya aku tak menyukai segala sesuatu tentang burung, tetapi aku menikmati dari cara mereka memamerkan kicauannya diwaktu yang tepat.
Lalu ada suara lainnya yang aku dengar diluar kamarku yaitu suara dari kolam ikan yang tepat berada didepan tembok luar kamarku, hanya berjarak satu meter dari tembok luar kamarku, dan yang aku maksud suara lainnya itu adalah suara air mancur yang begitu bebas dan indahnya mereka keluar dari celobong selang yang telah disalurkan dari mesin air mancur itu sendiri, dan terciptanya suara yang amat sejuk untuk aku dengan bersamaan dengan suara-suara dari seekor burung yang berada diluar kamar tidurku. Seperti terciptanya suara orkestra alami dari yang tidak aku fikirkan sebelumnya. Disambut lagi dari suara se-ekor Ayam Jantan milik tetanggaku yang begitu lantang suaranya ketika se-ekor Ayam Jantan itu berkokok dengan sesuka dirinya untuk memeriahkan sore ini yang tanpa mereka sadari bahwa aku yang berada didalam kamar tidurku sedang memerhatikan gerak-gerik suara mereka yang sedang bersautan, dengan kondisi dimana aku lebih kosongkan fikiran aku dan lebih memfokuskan lebih dalam ke-bagian indra pendengaranku saat ini. Dan aku mencoba untuk mendengarnya terus menerus sampai saat aku sadari sudah waktunya aku untuk bergegas untuk segera beranjak dari tempat tidur tersebut dan menuju kamar mandi untuk secepatnya membersihkan seluruh badanku yang sudah tak sedap lagi aromanya.
Mungkin cukup, terimakasih burung, air mancur, ayam jantan dan semuanya, aku sedikit terbius sejenak bersama waktu.