Jumat, 03 November 2017

Yang Tak Berbatas

Jangan percaya kepada cahaya
Karena ia bersandar kepada gelap
Jangan percaya kepada gelap
Karena ia bersandar kepada malam
Jangan percaya kepada malam
Karena ia bersandar kepada waktu
Jangan percaya kepada waktu
Karena ia bersandar pada matahari
Jangan percaya kepada matahari
Karena ia bersandar kepada ruang
Jangan Percaya kepada ruang
Karena ia bersandar kepada batas

Percayalah kepada Yang Tak Berbatas
Karena IA bersandar tidak kemanapun
IA bersandar kepada IA
IA ada sebelum "ada" diadakan
IA ada mengadakan "ada"
IA ada mengadakan "tiada"
IA ada dan selalu ada
IA ada dan tidak mengada - ada

Tuhanku inilah aku yang kembali kepadaMu, Kau jauh diangkasa hatiku, sendiri, Tuhan.

Selasa, 24 Oktober 2017

Belanda... Oh Belanda...



Oh, aku ingin sekali berada di Belanda, walaupun aku tidak mengetahui di Belanda itu ada apa, yang aku tau di Belanda itu ada Manusia, sama halnya dengan aku.
Ada Matahari dan Bulan yang selalu bergantian dalam hari sebagai peranan penting.
Ada ornamen bangunan yang tak pernah aku lihat sebelumnya, sejauh ini aku hanya tau di Belanda itu adalah Salah satu Negara yang mungkin Menyenangkan dan Tentram karena melihat dari sisi visual pada Media Sosial yang menggambarkan secara umum keberadaan di Belanda ini, atau hanya secara lisan sebagai sebuah cara untuk orang-orang yang pernah berada disana untuk menceritakan gambaran prinsip Negara tersebut yang diceritakan oleh orang-orang yang berada di Negeri ku Indonesia.
Dan, konon katanya di Belanda itu tidak jauh beda dengan Indonesia dalam beberapa hal lainnya.
Aku bisa setuju dengan itu karena Belanda yang kita harus tau bahwa Belanda pernah berada di Indonesia kurang lebih 350 tahun yang lalu.
Dan meninggalkan sejarah yang telah dibangun oleh Belanda di Indonesia.
Bagi warga Indonesia yang mendengar atau mengetahui tentang Belanda, pasti dibenak mereka adalah "Penjajah", padahal secara tanpa disadari Belanda telah membangun banyak sekali bangunan-bangunan penting yang begitu kokoh dan kuatnya yang mereka bangun semasa menjadi Penjajah di Indonesia, dan yang sampai detik ini mereka meninggalkan banyak sekali bangunan yang masih kokoh berdiri, ketimbang bangunan yang dibuat oleh warga asli Indonesia sendiri.
Dan karena Belanda telah dimarkat sebagai musuh bagi warga Indonesia, sepeninggalan Belanda tersebut saat ini malah justru dihancurkan bangunannya dan dijadikan Mall atau bangunan baru oleh para penguasa Daerah tersebut yang menurutku agak menggelikan.
Tapi aku bukan untuk membahas hal itu.
Bagaimanapun aku tetap setuju bahwa Belanda adalah sebuah Negara yang telah menjajah Indonesia, tetapi itu semua tidak ada dihari ini mungkin, karena bagaimanapun Indonesia sudah terlanjur merdeka di tahun 1945 oleh Seseorang yang aku kagumi selalu, dia adalah Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno.
Kembali lagi soal keinginanku untuk berada di Belanda, banyak hal, entah kenapa itu terdapat didalam keinginan perasaanku untuk berada disana, rasanya seperti ingin memerdekakan diriku sendiri diatas tanah para Penjajah itu, dengan cara apa aku bisa untuk berada disana?
Sampai detik ini pun aku tidak tau caranya untuk berada disana. karena melihat dari sisi finansial salah satunya, atau juga karena melihat dari sisi keluargaku yang tidak ada setitik darah pun yang memiliki garis keturunan orang-orang Belanda. Latar belakang keluargaku adalah orang asli Indonesia, tulen, asli pribumi, dan ada beberapa asli Indonesia yang justru menjadi seorang Pejuang ketika mengusir para Penjajah itu dari Indonesia.
Cukup sulit memang untuk mencari alasan agar bisa berada di Belanda, tetapi ada hal lain yang begitu mudah dan sederhana untuk setidaknya aku bisa merasakan seolah aku berada di Belanda, yaitu dengan melihat dari bentuk Dunia Digital yang telah aku jajaki dizaman aku saat ini.
Walaupun sesungguhnya aku belum mengetahui seperti apa kehidupan dari warga Belanda sana, kebudayaan disana, atau karakter dari warga asli sana, namun seperti menjadi suatu keharusan ketika ada banyak sekali tempat destinasi yang aku ingin kunjungi selain Belanda, tapi untuk saat ini, aku ingin Belanda!!!
Dan jika aku diberi kesempatan atau ada seseorang yang ingin membiayaiku untuk pergi ke Belanda sekarang juga, dan aku hanya diizinkan untuk tinggal disana dengan jangka 1 minggu saja, aku pasti tak perlu banyak berfikir dan detik ini pun aku akan berkemas untuk mempersiapkan pakaianku untuk tinggal disana selama 1 minggu sekarang juga!!!
Tapi, apalah daya, ini semua hanya khayalan aku saja, aku bisa apa?

Belanda... Oh Belanda...

Jumat, 28 April 2017

Senja, bukan alat hitung.



Senja bukan kalender.
Jangan kau hitung senja ini dengan suatu rasa yang benar-benar telah kau rasakan untuk saat ini.
Cukuplah jadikan senja ini menjadi sebuah pertemuan antara kau dengan ia yang telah kau damba.

Senja bukan beker.
Senja tak akan berdering dengan kencang dan nyaring bunyinya tepat disamping daun telingamu hanya untuk memberitahu bahwa ia telah tiba pada waktu kesekian kalinya dan telah siap untuk kau nikmati.

Senja bukan catatan.
Dimanapun kau coba untuk mengaksarakan pinta-pintamu pada ia untuk dijadikan sebuah do'a.
Dan juga tidak memaksamu untuk menjadikan ia merasa terpuji pada saat kau telah merasa kagum olehNya.

Tetapi Senja adalah ciptaan Tuhan. 
Tuhan dengan begitu Maha Pemurah dan Maha Pengasihnya telah membiarkan sebuah lukisanNya menjadi bentuk karyaNya sebagai pertunjukan tiap pukul empat hingga enam pagi dan sore hari menjelang.

Senja ada dan tercipta hanya untuk kau nikmati.
Entah ketika kau seorang diri, berdua, atau bahkan dengan banyak orang yang sama sepertimu.

Lihatlah ia dengan bulat binar matamu, dan sunyi jiwamu saat ia datang menghampirimu.
Apa yang kau rasakan?



Jumat, 11 November 2016

terbius sejenak


Sore ini, pukul 16:29 menit, aku yang telah kembali pada ruang penenangku yaitu kamarku sendiri saat setelah aku selesaikan suatu kewajiban dalam sebagian hidupku, yaitu pekerjaan.
Aku mencoba membentangkan tubuhku dengan beralaskan ranjangku yang cukup sempit dikarenakan aku memiliki ukuran tubuh yang cukup tinggi, yang mengakibatkan saat ketika aku sedang menjatuhkan seluruh badanku keranjang tersebut, masih ada yang tersisa yaitu kedua kakiku bilamana tidak aku tekuk dan posisi tubuhku tidak miring.

Saat ini, posisi tubuhku bisa dibilang sedang dalam posisi telungkup, dengan adanya sebuah bantal yang aku sanggahkan diantara leher dan kepalaku, dengan posisi indra mataku yang aku biarkan kosong, dan aku buka lebar-lebar indra pendengaranku, seketika aku merasakan sebuah relaksasi yang telah terjadi saat ini, lalu segera aku simpan dalam memori otakku.

Aku mendengar diluar kamarku ada beberapa suara-suara seekor burung yang bersautan dengan burung-burung lainnya diluar sana, seakan memberitahu bahwa diluar sana mereka tampak gembira menyambut sore ini. Dan tidak mau kalah pula burung yang aku miliki ini menunjukan kehebatan kicauannya. Sebelumnya, aku memiliki seekor burung kutilang, tapi burung tersebut bukan sepenuhnya milikku, tetapi milik Ayah Angkatku. Walaupun sesungguhnya aku tak menyukai segala sesuatu tentang burung, tetapi aku menikmati dari cara mereka memamerkan kicauannya diwaktu yang tepat.

Lalu ada suara lainnya yang aku dengar diluar kamarku yaitu suara dari kolam ikan yang tepat berada didepan tembok luar kamarku, hanya berjarak satu meter dari tembok luar kamarku, dan yang aku maksud suara lainnya itu adalah suara air mancur yang begitu bebas dan indahnya mereka keluar dari celobong selang yang telah disalurkan dari mesin air mancur itu sendiri, dan terciptanya suara yang amat sejuk untuk aku dengan bersamaan dengan suara-suara dari seekor burung yang berada diluar kamar tidurku. Seperti terciptanya suara orkestra alami dari yang tidak aku fikirkan sebelumnya. Disambut lagi dari suara se-ekor Ayam Jantan milik tetanggaku yang begitu lantang suaranya ketika se-ekor Ayam Jantan itu berkokok dengan sesuka dirinya untuk memeriahkan sore ini yang tanpa mereka sadari bahwa aku yang berada didalam kamar tidurku sedang memerhatikan gerak-gerik suara mereka yang sedang bersautan, dengan kondisi dimana aku lebih kosongkan fikiran aku dan lebih memfokuskan lebih dalam ke-bagian indra pendengaranku saat ini. Dan aku mencoba untuk mendengarnya terus menerus sampai saat aku sadari sudah waktunya aku untuk bergegas untuk segera beranjak dari tempat tidur tersebut dan menuju kamar mandi untuk secepatnya membersihkan seluruh badanku yang sudah tak sedap lagi aromanya.

Mungkin cukup, terimakasih burung, air mancur, ayam jantan dan semuanya, aku sedikit terbius sejenak bersama waktu.

Kamis, 08 September 2016

karena Aku bukanlah Mereka

Aku, mencintai apa yang telah Tuhan ciptakan untuk semesta ini.
Seperti hujan, awan, langit dan segala sudut semesta itu sendiri jika itu memang ada.
Seperti aku yang ingin mencoba untuk bermeditasi pada aroma semesta yang diciptakan olehNya.

Dipagi hari, aku selalu menikmati pandawa ciptaanNya yang telah aku jalani disetiap hari.
Sadarnya, mungkin telah aku lewati banyak-banyak kisah tentang berbagai macam kebahagian dan perasaan dimasa lalu.

Ini bukan salahnya aku, maupun salahnya orang-orang yang telah ada dalam deretan cerita hidupku, bukan juga waktu yang begitu cepat berlalu.
Ini adalah sebuah keadaan dimana ada banyak sekali rasa pahit, perih dan sakit yang telah aku terima dengan orang yang pernah ada didalam peran hidupku untuk urusan perasaan.
Namun, untuk menyembuhkannya pula banyak sekali hal yang mampu aku lakukan dan yang jelas adalah bersumber dari diri aku sendiri.

Yang aku sadari, bukan tentang aku yang mencari kebahagiaan itu, bukan juga aku yang memaksakan mereka untuk membuat aku menjadi senang terhadapku.
Aku mampu untuk membuat kebahagiaan itu sendiri.


Menurutku, ternyata aku harus menyadarkan diri aku lebih dalam lagi, berfikir dalam kesendirian, berkaca pada kesepian, dan melihat jelas diriku sendiri hingga tersadar bahwa segala sesuatu yang telah aku jalani dimasa lampau adalah bualan perasaan kantuk-ku yang tak kunjung bisa aku lelapkan pada kelopak mata dan perasaanku.

Ada sesuatu kekejaman yang telah aku terima dan begitu sulit aku lakukan untuk menjadi kejam juga kepada seseorang yang telah melakukan pengkhianatan itu. Karena aku sadar aku terlahir bukan untuk menjadi PEMBENCI.
Justru aku berterima kasih banyak untuk mereka yang telah berkhianat kepadaku. Bahwa sesungguhnya mereka telah jujur untuk mengakui diri mereka itu pengkhianat, hingga aku tak sempat dan tak ada waktu untuk mencurigainya, karena itu bukan diriku.

Karena jika aku tau rasanya dibuat sakit melalui perasaan tetapi aku tetap melakukannya, bukankah aku sama kejamnya dengan pengkhianat itu?
Sangat mudah sebetulnya untuk diriku yang ingin seperti para pengkhianat itu, tetapi tak bisa aku lakukan karena aku bukanlah mereka.

Senin, 01 Februari 2016

Sematkanlah.

Mentik soal anyaman fikiran, tidak berbanding lurus dengan apa yang telah aku lakukan. Dimana pemberontakan merambah luas dari dada sang pembuas amarah. Sudut demi sudut menelisik balik pada rona cahaya mentari dibalik sikap membujur garis tulang rusuk. Mencoba kembali pada dunia yang berarti, merabah pancaran sinar diantara hitamnya sebuah dogma. Sang pencetus kian memacu pergerakannya untuk terus berkarya dengan serta mertanya hasil yang telah diciptakannya. Terdapat berbagai gumpalan perasaan yang mencoba menaklukan kegemarannya. Entah sampai disini atau pun nanti. Aku hanya ingin bernyanyi, ketika saat mati telah berada diujung pitam hati. Sematkanlah.

Kamis, 15 Oktober 2015

yang kusebut itu Do'a

Angin selalu memahami kemana arah hembusannya harus berlari
Seperti ia yang selalu mencoba untuk meriakkan tenangnya air dalam sepi

Dan mencoba untuk menyusup dalam lubang pori-pori kulit
Menyebabkan reaksi yang membuat hal tersebut tak terasa sakit

Untuk apa ada kata kita saat berjalan seiring
Untuk apa kau sebut kata kita jika kita tak mampu bersanding

Ku tak ingin bersamamu hanya karena takut sendiri
atau bersamamu hanya karena ketakutan akan sepi

Lalu kau berpura-pura untuk lupa bahwa rasaku telah hilang terbawa angin senja
Dan kau merelakan mentari terbenam tanpa ada alasan yang kusebut itu Do'a