Rabu, 29 Juli 2015

Malam yang tak berangsur tidur



Disuatu malam, dikeseringan malam, aku masih menyerupai sebuah kondisi yang sama seperti dengan kemarin. Menepi diteduhnya alas teras rumahku. Memujuk, duduk dan berharap akan petunjuk. Entah apa yang menghantui si kepala ini, yang jelas dikeseringan malam ini, sulit rasanya untuk memanjakan kedua kelopak mata ini untuk menciptakan bunga tidur.
Dan hal ini aku rasakan secara sadar. Masih terus berangsur meminta tanya didalamnya. Disaat ini pun aku mencoba kebiasaan baru, hal yang baru, situasi yang baru.

Malam yang tak berangsur tidur, disaat itupun terbesit akal dimana aku menjadi penulis. Tampak konyol sebenarnya. Bagiku menjadi penulis itu seksi. Sadarnya aku akan mencoba untuk menciptakan aksara demi aksara yang menyebabkan terjadinya sebuah kata, sebuah kata yang menimbulkan kalimat, tentu saja kalimat yang mudah dan terbaca. Dibaca pun agar dimengerti. Dimengerti akan maksud yang tertumpah disini. Iya puisi.

Malam yang tak berangsur tidur, aku melanjutkan besitan ide tersebut dengan memulainya dari sebuah pertanyaan dari se-eka tanya hingga saharsa tanya. Apakah aku bisa memulai hal baru ini untuk menjadi seorang penulis? Kekonyolan itu terulang kembali. Sadarnya aku tidak ahli mengenai ide ini, tetapi aku ingin mempunyai hal yang aku yakini bahwa "bakat itu bukan terlahir, tetapi bakat itu dilahirkan". Dan ide ini tak hanya menjadi keinginan yang sesaat. Tetapi berkeinginan yang tak henti menyandu hasrat diri.

Malam yang tak berangsur tidur, menemukan ide-ide brilian untuk mencari bahan itu tak begitu mudah, melainkan sulit. Harus disadari, yang selalu terfikir itu adalah yang dipaksakan untuk ada nyatanya. Paksaan si kepala ini haruslah berjalan. Karena adanya sebuah paksaan yang mengandung rasa keingin tahuan, dan tidak memungkiri akan terjadinya sebuah reaksi si kening yang berkerut karena guna dayanya untuk berfikir. Dan pendalaman jiwa yang semoga utuh terjaga kesehatannya.

Malam yang tak berangsur tidur, semoga dan semoga selalu aku semogakan untuk mengabuli permintaan si kepala ini. Itu semua terjadi karena adanya Malam yang tak berangsur tidur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar