Rabu, 30 September 2015

si anak Lelaki

Saat ini, dimana seorang anak laki-laki yang sekarang menginjak umur 21 tahun itu sedang membentangkan tubuh kurusnya diatas ranjang milik sang Ibundanya, sedangkan Ibundanya memilih tertidur diantara penyeka ruangan dan beralaskan ranjang yang agak tipis ketebalannya.

Saat ini, si anak lelaki itu sedang mengingat pada masa itu, masa lalu yang pernah ia alami bersama Ibundanya dimana saat ini terulang kembali. Seperti apa kata orang-orang katakan sebagai "De Ja Vu".

Saat ini, si anak lelaki itu merasakan saat dimana ia masih berusia dini dan melihat seorang Ibunda yang begitu keras menjalani kehidupannya untuk menafkahi si anak lelaki itu untuk bertahan hidup dikala itu.

Begitu terasanya si anak lelaki itu melihat raga si Ibundanya yang begitu lelah ketika sepulang kerja saat itu, dan yang si anak lelaki itu tau ketika melihat Ibundanya sepulang kerja hanya meminta uang, tetapi dengan sebuah syarat, dimana si anak lelaki itu jangan sampai berbuat onar dan juga nakal.

Si anak lelaki itu menuruti persyaratan Ibundanya. Lalu setelah itu sang Ibunda memberi sedikit rezeki yang telah dihasilkan si Ibundanya ketika sepulang ia kerja, lalu dipakailah uang tersebut untuk jajan seiring apa yang si anak lelaki itu setelah mendapat sedikit rezeki yang dimiliki oleh si Ibunda.

Asal kamu tau, sang Ibunda telah berpisah dengan Suaminya saat si anak lelaki itu baru menginjak umur 6 tahun, dan si anak lelaki itu adalah Aku. Dan si Ibunda dari si anak lelaki itu adalah Ibu Aku.

Begitu banyak hal yang telah Ibuku korbankan demi menghidupi si anak Lelaki seperti diriku. Tak banyak hal yang aku mengerti disaat itu, yang aku mengerti disaat itu adalah bagaimana aku bisa jajan dan bermain dengan teman-teman sebayaku. Yang aku mengerti hanyalah bagaimana aku sekolah dengan apa yang telah diajarkan oleh orang tuaku yang lain saat berada disekolah (guru) dan memaksaku untuk mengerti walaupun sesungguhnya aku tak suka. Yang aku mengerti adalah dimana sosok seorang Bapak tidak luput dari keberadaan hidupku, dan aku tidak merasakan sesuatu hal yang hilang dari sosok seorang bapak. Yang aku mengerti adalah dimana Ibuku dan Bapaku memutuskan untuk tidak hidup bersama lagi denganku dan akan berpisah. Disaat mereka berdua memutuskan untuk berpisah, aku sebagai buah hati mereka hanya mampu meratapi apa yang terjadi dan tidak luput dari rasa tangis yang tak tertahan, dan bagiku itu adalah sesuatu hal yang aku anggap Manusiawi. Karena yang aku mengerti bahwa bagaimanpun caranya aku harus tetap melanjutkan hidupku sebagai seorang Anak, dan menanggung beban dari sebuah perceraian antara orang tuaku, dimasa itu begitu lekatnya cemoohan dan penghinaan untuk diriku saat semua orang tau bahwa orang tuaku telah bercerai, rasanya... tak mampu teruraikan. Tetapi yang aku sadari adalah aku selalu mencoba untuk menjadi diriku dimasa itu, dimana yang aku pahami untuk diriku sendiri dimasa itu adalah menjadi seorang yang periang, seorang yang bisa disebut penggembira, seorang yang amat begitu senang jika ada sesuatu hal yang aku anggap lucu, seorang yang selalu kenyang dengan berbagai macam amarah sang Ibunda ciptakan mulai dari yang berbentuk fisik maupun lisan. Entah kenapa aku begitu nakal disaat itu, tetapi kenakalan diriku ini tidak menggambarkan seorang anak yang pemberontak kepada teman-temannya, aku menjadi nakal untuk diriku sendiri dikala itu, dan aku bukan si anak lelaki yang akan selalu melukai temannya sendiri, aku adalah si anak lelaki yang begitu membutuhkan sesosok manusia yang aku anggap itu teman.

Itulah aku. Aku si anak lelaki yang berada dimasa itu. Aku si anak lelaki yang disaat itu masih berusiakan kanak-kanak. Aku si anak lelaki yang memiliki sebuah keadaan keluarga yang rapuh. Aku si anak lelaki yang sedang bercerita tentang masalalunya, untuk masalalunya. Aku si anak lelaki yang sedang teringat pada masalalunya. Aku si anak lelaki yang amat sangat mencintai Ibunya. Inilah aku, si anak Lelaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar