Sematkanlah.
Mentik soal anyaman fikiran, tidak berbanding lurus dengan apa yang telah aku lakukan. Dimana pemberontakan merambah luas dari dada sang pembuas amarah. Sudut demi sudut menelisik balik pada rona cahaya mentari dibalik sikap membujur garis tulang rusuk. Mencoba kembali pada dunia yang berarti, merabah pancaran sinar diantara hitamnya sebuah dogma. Sang pencetus kian memacu pergerakannya untuk terus berkarya dengan serta mertanya hasil yang telah diciptakannya. Terdapat berbagai gumpalan perasaan yang mencoba menaklukan kegemarannya. Entah sampai disini atau pun nanti. Aku hanya ingin bernyanyi, ketika saat mati telah berada diujung pitam hati. Sematkanlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar